Cari disini / searching.....

Minggu, 04 Januari 2015

model pembelajaran kooperatif

MACAM-MACAM MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF LEARNING

Makalah ini disusun dalam rangka untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Strategi Belajar Mengajar
Dosen Pengampu : Dr.H.Bambang Priyo Darminto,M.kom 







Disusun Oleh:
HARMAJI ( 112144397 )
Kelas IVG








PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2013






BEBERAPA MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF LEARNING
1.      MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY
Model pembelajaran Two Stay Two Stray / Dua Tinggal Dua Tamu merupakan model pembelajaran yang memberi  kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lainnya. Hal ini dilakukan dengan cara saling mengunjungi/bertamu antar kelompok untuk berbagi informasi.
·         Dikembangkan oleh Spencer Kagan (1990)
·         Dapat dikombinaksikan atau digabungkan dengan teknik kepala bernomor
·         Dapat diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan umur
·         Memungkinkan setiap kelompok untuk saling berbagi informasi dengan kelompok-kelompok lain
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
1.      Siswa bekerja sama dalam kelompok yang berjumlah 4 (empat) orang.
2.      Guru memberikan tugas pada setiap kelompok untuk didiskusikan dan dikerjakan bersama
3.      Setelah selesai, dua orang dari masing-masing menjadi tamu kedua kelompok yang lain.
4.      Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka.
5.      Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
6.      Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka.
7.      Kesimpulan..

2.      MODEL PEMBELAJARAN KELILING KELOMPOK
Dapat diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas. Dalam kegiatan keliling kelompok, masing-masing anggota kelompok berkesempaatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan anggota yang lain.
Langkah-langkah pembelajarannya:
1.      Salah satu siswa dari masing-masing kelompok memulai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan.
2.      Siswa berikutnya lalu memberikan kontribusi pemikirannya
3.      Demikian seterusnya. Giliran bicara dapat dilakukan menurut arah perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan.

3.      MAKE A MATCH (MENCARI PASANGAN)
Teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Bisa diteraapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut:
1.                  Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
2.      Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
3.      Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
4.      Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama tumbuhan dalam bahasa Indonesia akan berpasangan dengan nama tumbuhan dalam bahasa latin (ilmiah).
5.      Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
6.      Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama.
7.      Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
8.      Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok.
9.      Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.

4.      MODEL PEMBELAJARAN BERTUKAR PASANGAN
Teknik metode pembelajaran bertukar pasangan merupakan model pembelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sama dengan orang lain. Model pembelajarn ini bisa diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas.
Langkah penerapan metode bertukar pasangan sebagai berikut:
1.      Setiap siswa membentuk pasangan-pasangan, bisa ditunjuk langsung oleh guru atau siswa mencari sendiri pasangannya.
2.      Guru memberikan tugas untuk dikerjakan oleh setiap pasangan siswa
3.      Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lain
4.      Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan, masing-masing pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka.
5.      Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.
Kelebihan  Model Pembelajaran Bertukar Pasangan , yaitu:
1.      Siswa dilatih untuk dapat bekerjasama mempertahankan pendapat.
2.      Semua siswa terlibat.
3.      Melatih siswa untuk lebih teliti, cermat, cepat dan tepat.
Kelemahan  Model Pembelajaran Bertukar Pasangan , yaitu:
1.      Proses pembelajaran membutuhkan waktu yang lama.
2.      Guru tidak dapat mengetahui kemampuan siswa masing-masing.
3.      Siswa kurang konsentrasi.

5.      MODEL PEMBELAJARAN CO-OP CO-OP
Co-op co-op adalah sebuah bentuk group investigation yang menempatkan tim dalam kooperasi antara satu dengan yang lainnya (seperti namanya) untuk mempelajari sebuah topik di kelas.
Langkah – langkah :
1). Diskusi kelas terpusat pada siswa
2). Menyeleksi tim pembelajaran siswa dan pembentukan tim.
3). Seleksi topik tim.
4). Pemilihan topik tim.
5). Persiapan topik kecil.
6). Presentasi topik kecil.
7). Persiapan presentasi tim.
8). Presentasi tim
9). Evaluasi.

6.      MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE (LEARNING TOGETHER) LT
Slavin (2008) mengungkapkan bahwa David dan Roger Johnson dari Universitas Minnesota mengembangkan model Learning Together dari pembelajaran kooperatif (Jhonson and Jhonson 1987; Jhonson dan Jhonson & Smith, 1991).
Model yang mereka teliti melibatkan siswa yang dibagi dalam kelompok yang terdiri atas empat atau lima siswa dengan latar belakang berbeda mengerjakan lembar tugas. Kelompok-kelompok ini menerima satu lembar tugas, menerima pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok. Model ini menekankan pada empat unsur yakni :
1.      Interaksi tatap muka : para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan empat sampai lima siswa.
2.      Interdependensi positif : para siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan kelompok.
3.      Tanggung jawab individual : para siswa harus memperlihatkan bahwa mereka secara individual telah menguasai materinya.
4.      Kemampuan-kemampuan interpersonal dan kelompok kecil : para siswa diajari mengenai sarana-sarana yang efektif untuk bekerja sama dan mendiskusikan seberapa baik kelompok mereka bekerja dalam mencapai tujuan mereka.
Dalam hal ini penggunaan kelompok pembelajaran heterogen dan penekanan terhadap interdependensi positif, serta tanggung jawab individual metode-metode Johnson ini sama dengan STAD. Akan tetapi, mereka juga menyoroti perihal pembangunan kelompok dan menilai sendiri kinerja kelompok, dan merekomendasikan penggunaan penilaian tim ketimbang pemberian sertifikat atau bentuk rekognisi lainnya (Slavin,2008).
Pada pembelajaran kooperatif tipe LT setiap kelompok diharapkan bisa membangun dan menilai sendiri kinerja kelompok mereka. Masing-masing kelompok harus bisa memperlihatkan bahwa kelompok mereka adalah kelompok yang kompak baik dalam hal diskusi maupun dalam hal mengerjakan soal, setiap anggota kelompok harus bertanggung jawab atas hasil yang mereka peroleh. Jika hasil tersebut belum maksimal atau lebih rendah dari kelompok lain maka mereka harus meningkatkan kinerja kelompoknya.
Adapun sintaks dari LT  adalah:
1)      Guru menyajikan pelajaran.
2)      Membentuk kelompok yang anggotanya 4 sampai 5 siswa secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain).
3)      Masing-masing kelompok menerima lembar tugas untuk bahan diskusi dan  menyelesaikannya.
4)      Beberapa kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya.
5)      Pemberian pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok.
Bentuk penghargaan yang diberikan kepada kelompok didasarkan pada pembelajaran individual semua anggota kelompok, sehingga dapat meningkatkan pencapaian siswa dan memiliki pengaruh positif pada hasil yang dikeluarkan   (Slavin, 2008).

7.      TEAM PRODUCT (TP)
Dinamakan Team product karena setiap kelompok diminta untuk berkreasi atau menciptakan sesuatu. Misalnya, guru meminta siswa berkelompok untuk menulis sebuah esai, mengerjakan tugas, mendaftar solusi-solusi altermatif tentang masalah tertentu, atau menganalisis puisi. semua hal yang dilakukan oleh setiap kelompok haruslah berbentuk produk, baik itu abstrak maupun konkret. untuk memastikan adanya tanggung jawab individu, guru dapat memberikan peran atau tugas yang berbeda-beda pada masing-masing anggota dalam setiap kelompok untuk menciptakan satu produk kelompok.

8.      MODEL PEMBELAJARAN INSIDE OUTSIDE CIRCLE (lingkaran dalam- lingkaran luar)
·         Dikembangkan oleh Spencer Kagan (1990)
·         Memungkinkan siswa saling berbagi informasi pada waktu yang bersamaan
·         Dapat Diterapkan untuk beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama, matematika, dan bahasa. Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan-bahan yang membutuhkan pertukaran pikiran dan informasi antarsiswa.
·         Dapat diterapkan untuk semua tingkatan kelas dan sangatdigemari terutama anak-anak.
Langkah-langkah atau sintaks model pembelajaran inside outside circle:
Dinamakan Team product karena setiap kelompok diminta untuk berkreasi atau menciptakan sesuatu. Misalnya, guru meminta siswa berkelompok untuk menulis sebuah esai, mengerjakan tugas, mendaftar solusi-solusi altermatif tentang masalah tertentu, atau menganalisis puisi. semua hal yang dilakukan oleh setiap kelompok haruslah berbentuk produk, baik itu abstrak maupun konkret. untuk memastikan adanya tanggung jawab individu, guru dapat memberikan peran atau tugas yang berbeda-beda pada masing-masing anggota dalam setiap kelompok untuk menciptakan satu produk kelompok.

·         Dikembangkan oleh Spencer Kagan (1990)
·         Memungkinkan siswa saling berbagi informasi pada waktu yang bersamaan
·         Dapat Diterapkan untuk beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama, matematika, dan bahasa. Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan-bahan yang membutuhkan pertukaran pikiran dan informasi antarsiswa.
·         Dapat diterapkan untuk semua tingkatan kelas dan sangatdigemari terutama anak-anak.
Langkah-langkah atau sintaks model pembelajaran inside outside circle:
1.                  Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar
2.                   Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama, menghadap ke dalam
3.                   Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan
4.                   Kemudian siswa berada di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam.
5.                   Sekarang giliran siswa berada di lingkaran besar yang membagi informasi. Demikian seterusnya 
Kelebihan model pembelajaran inside outside circle:
·                      Tidak ada bahan spesifikasi yang dibutuhkan untuk strategi . Sehingga dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam pelajaran
·                     Kegiatan ini dapat membangun sifat kerjasama antar siswa
·                     Mendapatkan informasi yang berbeda pada saat bersamaan.
Kekurangan model pembelajaran inside outside circle:
·                     Membutuhkan ruang kelas yang besar.
·                     Terlalu lama sehingga tidak konsentrasi dan disalahgunakan untuk bergurau.
·                     Rumit untuk dilakukan.

9.      SPONTANEOUS GROUP DISCUSSION (SGD)
Jika siswa diminta untuk duduk berpasangan aatau berkelompok, kita akan lebih mudah menginstruksikan mereka untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, seperti mencari makna sesuatu, mencari alasan tentang peristiwa tertentu, aatau memecahkan suatu masaalah. Dikenal dengan istilah spontaneous group discussion karena diskusi kelompok ini tidak direncanakan sebelumnya, tetapi dilaksanakan secara spontan. Teknik pelaksanaannya pun sederhana, yaitu meminta siswa untuk berkelompok dan berdiskusi tentang sesuatu. setelah itu, guru memanggil kelompok itu satu per satu untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Diskusi ini bisa dilaksanakan beberapa menit atau sepanjang jam pelajaran. Akan tetapi, meskipun spontan diskusi kelompok ini tetap mengharuskan guru untuk memperhatikan lima elemen pembelajaran kooperatif. Interpredensi positif, akuntabilitas individu, interaksi promotif, keterampilan sosial, dan pemrosesan kelompok.
10.  Listening Team
Strategi Listening Team ini bertujuan membentuk kelompok yang mempunyai tugas atau tanggung jawab tertentu berkaitan dengan materi pelajaran sehingga akan diperoleh partisipasi aktif siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
Pembelajaran diawali dengan pemaparan materi pembelajaran oleh guru. Selanjutnya guru membagi kelas menjadi kelompok –kelompok, setiap kelompok mempunyai peran masing-masing. Kelompok pertama merupakan kelompok penanya, kelompok kedua merupakan kumpulan orang yang menjawab berdasarkan perspektif tertentu, kelompok ketiga kumpulan orang yang menjawab dengan perspektif yang berbeda dengan kelompok kedua dan kelompok keempat adalah kelompok yang bertugas mereview dan membuat kesimpulan dari hasil diskusi. Pembelajaran diakhiri dengan penyampaian kata kunci atau konsep yang telah dikembangkanoleh peserta didik dalam berdiskusi.
Langkah-langkahnya :
1.      Bagilah siswa menjadi empat kelompok, masing-masing kelompok mendapat salah satu dari tugas berikut ini :
Tim
Peran
Tugas
1
Penanya
Setelah pelajaran yang didasarkan ceramah selesai, Penanya yang bertugas membuat minimal dua pertanyaan mengenai materi yang baru saja disampaikan.
2
Orang yang setuju
Setelah pelajaran yang didasarkan pada ceramah selesai, menyatakan poin-poin mana yang mereka sepakati (atau membantu) dan menjelaskan mengapa demikian. Dan Kelompok kedua ini merupakan kumpulan orang yang menjawab berdasarkan perspektif tertentu. Atau disebut juga sebagai kelompok Pendukung yang bertugas mencari ide-ide yang disetujui atau dipandang berguna dari materi pelajaran yang baru saja disampaikan dengan memberi alasan “mengapa kami setuju”.
3
Orang yang tidak Setuju
Setelah pelajaran yang didasarkan pada ceramah selesai, mengomentari tentang poin mana yang tidak mereka setujui (atau tidak membantu) dan menjelaskan mengapa demikian. Atau Kelompok ketiga ini merupakan kumpulan orang yang menjawab dengan perspektif yang berbeda dengan kelompok kedua. Atau disebut juga sebagai kelompok Penentang yang bertugas mencari ide-ide yang tidak disetujui atau dipandang tidak berguna dari materi pelajaran yang baru saja disampaikan dengan memberi alasan. Perbedaan ini diharapkan memunculkan diskusi yang aktif yang ditandai oleh adanya proses dialektika berpikir, sehingga mereka dapat menemukan pengetahuan struktural.
4
Pemberi Contoh
Setelah pelajaran yang didasarkan pada ceramah selesai, memberi contoh-contoh khusus atau aplikasi materi. Atau merupakan kelompok yang bertugas mereview dan membuat kesimpulan dari hasil diskusi. Serta Pemberi Contoh yang spesifik atau penerapan dari materi yang disampaikan guru dengan memberikan alasan.
2.      Sampaikan materi pelajaran dengan metode ceramah yang didasarkan pada sesi tatap muka. Setelah selesai, berilah kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk menyelesaikan tugas mereka dan beberapa saat untuk mengomentari tugas-tugas mereka.
3.      Mintalah masing-masing kelompok untuk menyampaikan hasil dari tugas mereka. Baik itu akan menimbulkan kegiatan bertanya, sepakat, dan sebagainya. Guru hendaknya memperoleh partisipasi peserta didik dari pada yang pernah guru bayangkan.
4.      Beri klarifikasi secukupnya.
Modifikasi :
a.       Jika jumlah siswa banyak, buatlah kelompok ganda artinya terdapat 2 kelompok sebagai penanya dan begitu pula pada kelompok lainnya.
b.      Bisa juga dawali dengan tugas individual.
5.      Pembelajaran diakhiri dengan penyampaian berbagai kata kunci atau konsep yang telah dikembangkan oleh peserta didik dalam diskusi.

11.  METODE PEMBELAJARAN - SNOWBALL THROWING
Metode Snowball Throwing yaitu metode pembelajaran yang didalam terdapat unsur-unsur pembelajaran kooperatif sebagai upaya dalam rangka mengarahkan perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
 Langkah-langkah Pembelajaran dengan Metode Snowball Throwing:
a.       Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
b.      Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
c.       Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya.
d.      Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
e.       Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain.
f.       Siswa yang mendapat lemparan bola diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas yang berbentuk bola tersebut.
g.      Evaluasi.
h.      Penutup.

12.   MODEL PEMBELAJARAN TARI BAMBU
Pembelajaran dengan model Bamboo Dancing sama dengan metode inside circle.Pembelajaran diawali dengan pengenalan topik oleh guru. Guru bisa menuliskan topik tersebut di papan tulis atau guru bisa juga mengadakan tanya jawab dengan siswa tentang apa yang mereka ketahui tentang materi tersebut.  Kegiatan sumbang saran ini dimaksudkan untuk mengaktifkan struktur kognitif yang telah dimiliki peserta didik agar lebih siap menghadapi pelajaran yang baru.
Model Pembelajaran Tari Bambu mempunyai tujuan agar siswa saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dalam waktu singkat secara teratur, strategi ini cocok untuk materi yang membutuhkan pertukaran pengalaman pikiran dan informasi antar siswa. Meskipun namanya Tari Bambu tetapi tidak menggunakan bambu. Siswa yang berjajarlah yang di ibaratkan sebagai bambu.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Bamboo Dancing (Tari Bambu)
1.      Penulisan topik di papan tulis atau mengadakan tanya jawab dengan siswa.
2.      Separuh kelas atau seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak berdiri berjajar. Jika ada cukup ruang mereka bisa berjajar di depan kelas. Kemungkinan lain adalah siswa berjajar di sela-sela deretan bangku. Cara yang kedua ini akan memudahkan pembentukan kelompok karena diperlukan waktu relatif singkat.
3.      Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama
4.      Dua siswa yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi informasi.
5.      Kemudian satu atau dua siswa yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya di jajarannya. Jajaran ini kemudian bergeser. Dengan cara ini masing-masing siswa mendapat pasangan yang baru untuk berbagi. Pergeseran bisa dilakukan terus sesuai dengan kebutuhan.

13.  KEPALA BERNOMOR TERSTRUKTUR (STRUCTURED NUMBERED HEADS)
·         Teknik ini merupakan pengembangan dari teknik Kepala Bernomor
·         Memudahkan pembagian tugas.
·         Memudahkan siswa belajar melaksanakan tanggung jawab individunya sebagai anggota kelompok.
·         Dapat diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas.
Langkah-langkah model pembelajaran terstruktur:
1.         Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok. Masing-masing siswa dalam kelompok diberi nomor.
2.         Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomornya.
3.         Jika perlu (untuk tugas-tugas yang lebih sulit) guru juga bisa melibatkan kerja sama antarkelompok. Siswa diminta keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama siswa-siswa yang bernomor sama dari kelompok lain. Dengan demikian, siswa-siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja mereka.



DAFTAR PUSTAKA






http://vanesharueirong.blogspot.com/2013/05/macam-macam-model-pembelajaran.html

Miftahul Huda. 2013. Cooperative learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar