Cari disini / searching.....

Selasa, 30 Desember 2014

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS

A.    Landasan Teori
Landasan teori perlu ditegakkan agar suatu penelitian memiliki dasar yang kokoh dan tidak sekedar coba-coba saja (trial and error). Landasan teori inilah yang merupakan ciri bahwa penelitian itu merupakan suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data. Kerlinger dalam Sugiyono (2010: 79-80) menyatakan bahwa “teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variable, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena”.  Sitirahayu Haditono dalam Sugiyono (2010: 80) mengatakan bahwa “teori adalah akan memperoleh arti penting, bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan, dan meramalkan gejala yang ada”.
Teori adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis. Secara umum, teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan pengendalian (control). Dalam penelitian pendidikan, misalnya seseorang ingin melihat sejauh mana pengaruh penerapan pendekatan Problem Solving terhadap prestasi belajar matematika seorang siswa. Dalam hal ini, melalui teori yang ada, seorang peneliti harus mampu menjelaskan apa itu Problem Solving, bagaimana Problem Solving dijalankan dalam proses pembelajaran dan seterusnya. Selanjutnya, dari penjelasan teori tersebut, peneliti harus bisa membuat suatu perkiraan/ prediksi dari penggunaan Problem Solving terhadap prestasi belajar siswa. Apakah prestasinya lebih baik atau tidak. Pada akhirnya, peneliti menjadikan Problem Solving sebagai alat untuk mengkontrol berlangsungnya pembelajaran.  Atau dengan kata lain, pembelajaran harus didesain sedemikian rupa sehingga memenuhi segala tuntutan yang diminta oleh Problem Solving dan tidak ada ruang sekecil pun untuk dilaksanakannya pendekaan atau metode lainya.
Dalam upaya mencari sumber teori, secara garis besar dibedakan menjadi dua sumber, yaitu (1) sumber acuan umum, dan (2) sumber acuan khusus. Yang dikatakan sumber acuan umum adalah buku teks, ensiklopedia, dan semacamnya. Sedangkan sumber acuan khusus diantaranya adalah laoran hasil penelitian, jurnal penelitian, dan semacamnya. Dalam era sekarang ini, pencarian kepustakaan akan lebih dimudahkan dengan fasilitas internet. Banyak sekali teori-teori yang dibutuhkan dalam penelitian tersedia di halaman-halaman web. Bahkan ketika sekarang ini diwajibkan untuk mencantumkan jurnal penelitian sebagai acuan dalam penelitian, baik jurnal nasional maupun internasional, akan sangat mudah sekali diperoleh dari internet. Jurnal yang tadinya mahal akan menjadi gratis melalaui internet.
Sumber bacaan biasanya dikemukakan dalam dua criteria, (1) prinsip kemutakhiran dan (2) prinsip relevansi. Prinsip kemutakhiran menuntut peneliti untuk menggunakan sumber bacaan yang mutakhir (up to date). Bahkan ada semacam aturan tidak tertulis yang mewajibkan sumber bacaan paling tidak harus diambil dari cetakan 10 tahun terakhir. Prinsip relevansi menuntut peneliti untuk menggunakan bacaan-bacaan yang sesuai (relevan) dengan apa yang diteliti.
Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian secara sistematistentang teori (dan bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variable yang diteliti. Deskripsi teori paling tidak berisi penjelasan terhadap variable-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uaraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan, dan prediksi terhadap hubungan antar variable yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
Dalam laporan penelitian, kelengkapan teori yang ditulis akan menandakan bahwa penulis memiliki tingkat penguasaan terhadap teori yang baik. Penguasaan teori ini akan semakin baik lagi jika peneliti terus berupaya untuk membaca sebanyak-banyaknya teori yang mendukung tentang apa yang diteliti. Semakin lengkap deskripsi teori yang dimiliki oleh peneliti, akan semakin baik pula tingkat pemahamannya dan memudahkan dalam membangun hubungan sebab akibat antar variable. Kelengkapan teori inilah yang menjadi tuntutan bagi semua peneliti.

Contoh.
Seorang peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan CTL Materi Fungsi Kuadrat Ditinjau Dari Motivasi Belajar Siswa Kelas VII SMP Se-Kecamatan Purworejo Tahun Ajaran 2011/2012”. Dari judul tersebut, seorang peneliti harus membangun teori pembelajaran terlebih dahulu. Kemudian teori tentang CTL dan Motivasi Belajar. Secara lengkap, teori yang diperlukan disajikan sebagai berikut .
1.      Definisi Prestasi Belajar Matematika
a.       Definisi Belajar
b.      Definisi Matematika
c.       Definisi Prestasi Belajar
d.      Definisi Prestasi Belajar Matematika
2.      Definisi Pembelajaran
a.       CTL
1)      Definisi CTL
2)      Karakteristik CTL
3)      Ciri-ciri CTL
4)      Langkah Pembelajaran CTL
5)      Kelebihan CTL
6)      Dll
b.      Ceramah
1)      Definisi metode ceramah
2)      Langkah-langkah pembelajaran ceramah
3)      dll
3.      Motivasi Belajar
a.       Definisi Motivasi Belajar
b.      Macam-macam Motivasi belajar
c.       Cara meningkatkan motivasi belajar
d.      Dll

Tata Cara Pengutipan
Dalam pendefinisian istilah yang digunakan sebagai variable penelitian, peneliti bisa mengutip dari pendapat para pakar yang ahli dibidangnya. Pada umumnya, jumlah pakar yang dipakai setidaknya tiga orang pakar. Selanjutnya dari pendapat pakar-pakar tersebut, peneliti tinggal menyimpulkan saja. Penulisan kutipan dalam laporan penelitian adalah sebagai berikut.
1.      Kutipan Langsung kurang dari lima baris
Pada kutipan jenis tersebut, dibubuhkan tanda “ di depan dan akhir kutipan dimasukkan dalam paragraph.
Contoh:
Menurut Winkel (1986:150), “prestasi adalah bukti usaha yang sudah dicapai setelah melakukan sesuatu”. Zainal Arifin (1990: 3) mengemukakan bahwa “Prestasi adalah hasil dari kemampuan, keterampilan, dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal”. Sutratinah Tirtonagoro (1984: 43) menyatakan bahwa “Prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf, atau kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh anak dalam periode tertentu”.

Pada contoh di atas, sumber yang diacu adalah tulisan dari Winkel, pada bukunya yang terbit pada tahun 1986 di halaman 150. Selanjutnya yang sangat harus diperhatikan lagi adalah, keterangan buku hasil tulisan Winkel harus dapat ditunjukkan pada Daftar Pustaka.

2.      Kutipan langsung lima baris atau lebih
Pada kutipan jenis tersebut, maka ditulis dengan spasi 1 dan dikeluarkan dari paragraph menjorok ke kanan, tanpa tanda kutip.
Contoh
Dalam pembelajaran ini dirancang serangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Slavin dalam Wina Sanjaya (2008: 242) mengemukakan dua alasan dianjurkannya metode ini,
Pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.
3.      Kutipan tidak langsung
Kalau kutipan tidak langsung, dalam arti penulis memodifikasi kalimat yang ada dengan tanpa meninggalkan makna yang ada pada kalimat aslinya, penulisannya tidak perlu disertai tanda “.

Penulisan landasan teori ini, jika tidak hati-hati akan menjadikan dan mondorong penulis untuk melakukan plagiat. Secara akademik, plagiat merupakan penyakit yang sangat kronis dan harus diberantas. Untuk mengatasinya, penulis harus benar-benar menyertakan dan menunjukkan buku yang dikutip dari seseorang tersebut di daftar pustaka. Kebiasaan buruk download dari internet juga akan mendorong penulis untuk melakukan plagiarisme. Pengambilan artikel apapun dari internet harus disertai alamat web yang jelas dan lengkap.     

B.     Kerangka Berpikir
Uma Sekaran dalam Sugiyono (2010: 91) mengemukakan bahwa “kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang telah diidentifikasi sebagai masalah penting”. Selanjutnya kerangka berpikir yang baik akan dapat menjelaskan secara teoritis pertautan antar variable  yang akan diteliti.
Kerangka berpikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut memuat atau berkenaan dengan dua variable aau lebih. Apabila penelitian hanya membahas sebuah variable atau lebih secara mandiri, maka peneliti di samping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variable, juga argument terhadap variasi besaran variable yang diteliti. Pada penelitian yang berbentuk hubungan maupun komparasi perlu juga disusun suatu kerangka berpikir.
Pada dasarnya kerangka berpikir adalah cara pandang peneliti untuk menghubungkan variable-variabel penelitian serta dapat menggambarkan opini secara teoritik bagaimana hubungan antar variable tersebut terjadi. Penulisan kerangka berpikir harus menyesuaikan dengan rumusan masalahnya, mengapa? Karena dalam rumusan masalah telah ditentukan arah dari penelitian yang akan dilaksanakan.
Misalnya, pada suatu penelitian yang berjudul “Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan CTL Pada Siswa Kelas VII SMP N 1 Purwodadi Tahun Ajaran 2011/2012”. Dari penelitian tersebut dirumuskan masalah “Apakah prestasi siswa yang dikenai pendekatan CTL akan lebih baik daripada prestasi siswa yang dikenai pendekatan mekanistik (ceramah)?”. Dari rumusan masalah tersebut, jelas terlihat bahwa arah penelitian yang akan dilakukan adalah untuk melihat atau membandingkan pendekatan belajar manakah yang dapat meningkatkan prestasi belajar, pendekatan CTL atau pembelajaran mekanistik. Dari rumusan masalah tersebut, peneliti dapat membangun kerangka berpikir sebagai berikut.
“Pembelajaran CTL merupakan salah satu pendekatan yang mengkedepankan keaktifan siswa, selain itu pada CTL akan mendorong siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini akan berakibat pada terbentuknya memori yang kuat dan berimbas pada pemahaman materi yang tidak mudah untuk dilupakan siswa. CTL juga melibatkan ruang lingkup sekitar kehidupan siswa, sehingga pengalaman belajarnya sangat telihat nyata dan dapat dirasakan langsung.
Dalam proses pembelajaran CTL siswa terlibat dalam banyak kegiatan pembelajaran: belajar individu, mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri, bekerja dalam kelompok, melibakan kehidupan realistic, dsb. Kegiatan-kegiatan inilah yang secara teori akan membanu meningkatkan kinerja dan hasil belajarnya.
Berbeda dengan pendekatan mekanistik yang lebih didominasi oleh ceramah. Siswa berada dalam lingkungan yang pasif dan dikontrol penuh oleh guru. Proses pemerolehan ilmu pengetahuan diibaratkan seperti bejana kosong yang diisi air sebanyak-banyaknya. Sehingga akadang ada yang bisa diingat dan banyak yang dilupakan. Dengan cara seperti ini, pengetahuan hanya dihafal saja oleh siswa dan dalam waktu yang cukup lama akan mudah dilupakan.
Perbedaan-perbedaan pada dua jenis pendekatan belajar inilah yang tentunya akan berpengaruh pada hasil (prestasi) belajar siswa. Melihat dari beberapa keuungulan dan kelemahan dari keduanya, maka dapat diduga bahwa pembelajaran dengan pendekatan CTL akan memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada pembelajaran dengan pendekatan mekanistik.”

Kerangka berpikir dapat juga dipandang sebagai sarana bagi pembaca untuk melihat sejauh mana peneliti memahami masalah penelitian yang diangkat. Selain itu, kerangka berpikir dapat digunakan untuk menilai sejauh mana peneliti memahami teori-teori yang dibangunnya dan melihat sejauh mana langkah penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti.
Out put dari penyusunan kerangka berpikir adalah dihasilkannya hipotesis (dugaan sementara) penelitian.

C.    Hipotesis
Budiyono (2003: 22) mengatakan bahwa “Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya msih harus diuji secara empiris”. Selanjutnya Sugiyono (2010: 96) mengemukakan bahwa “Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan”. Dikatakan jawaban sementara karena jawaban tersebut hanya didasarkan pada teori yang teah dibangun sebelumnya. Mseskipun dibangun secara teoritik, secara ilmiah jawaban tersebut belum bisa diterima jika belum dibuktikan dan didasarkan pada fakta-fakta serta data empirik yang diperoleh dari kegiatan pengumpulan data. Jadi dapat pula dikatakan, hipotesis adalah jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian.
Selanjutnya dalam penelitian akan dikenal pengertian hipotesis penelitian dan hipotesis statistic. Pengertian hipotesis penelitian sebagaimana di bahas didepan. Sedangkan pengertian hipotesis statistic didasarkan pada digunakannya sampel. Dengan kata lain, jika penelitian tidak menggunakan sampel, maka tidak ada hipotesis statistic. Uji statistic yang digunakan untuk menarik kesimpulan penelitian didasarkan data yang ada pada sampel. Selanjutnya kesimpulan pada sampel akan digeneralisir kepada populasi. Kesimpulan pada populasi inilah yang nantinya yang akan dibandingkan, apakah sama dengan hipotesis penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya atau tidak.
Mengapa hipotesis harus dibuat? Hipotesis harus dibuat berdasarkan tiga alas an, yaitu: (1) hipotesis yang mempunyai dasar yang kuat menunjukkan bahwa peneliti telah mempunyai cukup pengetahuan untuk melakukan penelitian di bidang itu, (2) hipotesis memberikan arah pada pengumpulan data, (3) hipotesis dapat menunjukkan analisis data apa yang akan digunakan.
Dalam penyusunan hipotesis disarankan sebagai berikut: (1) konsisten dengan landasan teori yang ada, (2) dinyatakan dalam kalimat deklaratif (pernyataan), (3) menyatakan pertautan antara dua variable atau lebih, (4) dirumuskan secara sederhana, (5) dapat diuji secara statistic.
Secara statistic, hipotesis biasanya dinyatakan dalam bentuk Hipotesis nol (H0) dan Hipotesis kerja  (Ha atu H1). Hipotesis nol adalah hipotesis yang menyatakan tidak adanya saling hubungan antara dua variable atau lebih. Dapat pula dikatakan sebagai hipotesis yang menyatakan tidak adanya perbedaan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya. Hipotesis kerja merupakan kebalikan dari Hipotesis nol, menyatakan adanya saling hubungan antara dua variable atau lebih. Dapat pula dikatakan sebagai hipotesis yang menyatakan adanya perbedaan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.
Seringkali timbul pertanyaan mengenai hipotesis mana di antara kedua macam hipotesis (nol atau kerja) itu yang harus dirumuskan sebagai hipotesis penelitian. Jawaban dari masalah ini adalah dikembalikan pada dasar teori dan kerangka berpikir yang digunakan. Namun pada kebanyakan penelitian, hipotesis yang dinyatakan sebagai hipotesis penelitian cenderung menggunakan hipotesis kerja (H1 atau Ha). Karena pada kebanyakan penelitian kuantitatif, cenderung untuk mencari perbedaan dari kelompok-kelompok yang diteliti, sehingga perumusan hipotesis kerja sebagai hipotesis penelitian dipandang lebih tepat.
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian, sehingga perumusan hipotesis tidak akan jauh berbeda dari perumusan masalah. Jika permusan masalah disajikan dalam kalimat pertanyaan, namun pada perumusan hipotesis disajikan dalam kalimat pernyataan.
Contoh perumusan hipotesis.
Judul Penelitian
Rumusan Masalah
Hipotesis Penelitian
Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan CTL Materi Turunan Pada Siswa Kelas XI SMA N 1 Purworejo Tahun Ajaran 2011/2012
“Apakah prestasi belajar materi turunan pada siswa yang dikenai pendekatan CTL lebih baik daripada siswa yang dikenai pembelajaran ekspositori?”
Prestasi belajar materi turunan pada siswa yang dikenai pendekatan CTL lebih baik daripada siswa yang dikenai pembelajaran ekspositori.
Pengaruh Kemampuan Awal dan Lingkungan Belajar Terhadap Prestasi Mateatika Siswa SD Se-Gugus Ahmad Yani Tahun Ajaran 2011/2012
1.      Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar matematika siswa ditinjau dari kemampuan awal?
2.      Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar matematika siswa ditinjau dari lingkungan belajarnya?
1.      Terdapat perbedaan prestasi belajar matematika siswa ditinjau dari kemampuan awal
2.      Terdapat perbedaan prestasi belajar matematika siswa ditinjau dari lingkungan belajarnya.
Korelasi Kemampan awal Matematika dan Aktivitasi Belajar dengan Prestasi Belajar Matematika
1.      Apakah terdapat hubungan positif antara kemampuan awal matematika dengan prestasi belajar matematika?
2.      Apakah terdapat hubungan positif antara aktivitas belajar dengan prestasi belajar matematika?
3.      Apaah terdapat hubungan positif antara kemampuan awal matematika dan aktivitas belajar dengan prestasi belajar matematika?
1.      Terdapat hubungan positif antara kemampuan awal matematika dengan prestasi belajar matematika.
2.      Terdapat hubungan positif antara aktivitas belajar dengan prestasi belajar matematika.
3.      Terdapat hubungan positif antara kemampuan awal matematika dan aktivitas belajar dengan prestasi belajar matematika.
Upaya peningkatan kreativitas pemecahan soal dan prestasi belajar melalui pembelajaran problem solving materi persamaan linier dua variable pada siswa kelas VII SMP N 2 Purworejo
1.      Apakah keativitas pemecahan soal dapat ditingkatkan melalaui pembelajaran problem solving?
2.      Apakah prestasi belajar matematika siswa dapat ditingkatkan melalui pembelajaran problem solving?
1.      Keativitas pemecahan soal dapat ditingkatkan melalui pembelajaran problem solving.
2.      Prestasi belajar matematika siswa dapat ditingkatkan melalui pembelajaran problem solving.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar